`نشــر الســنة في الأر خــبيل` جمعية الدعوة الإسلامية مرحبا اهلا وسهلا بحضوركم

MIMBAR DA’WAH

IKLAS

Oleh : Ust Hamdan S.Pd

 

Setiap muslim tentu tak ingin ibadahynya sia sia. Kehati-hatian dalam melaksanakan ibadah sangat dibutuhkan. Setiap ibadah yang kita lakukan tidak serta merta disahkan oleh Allah dan diganjar dengan pahala. Meski urusan diterima atau ditolaknya ibadah termasuk perkara yang ghaib. Tetapi patut disyukuri karena Rasulullah telah menjelaskan criteria ibadah yang diterima. Pun sebaiknya, Rasulullah juga telah menggambarkan secara detai sebab sebab amalan itu bisa ditolah oleh Allah  Ta’ala.

Para ulama sering menyebutnya dengan istilah syarat diterimanya amal (ibadah). Syarat pertama adalah ikhlas. Ikhlas bermakna menurnikan tujuan ibadah hanya kewpada Allah. Artinya setiap peribadatan yang kita lakukan terbatas dari segala bentuk kesyirikan. Allah Ta’ala berfirman dalam QS 98:5  Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan Iklas menaati-Nya semata mata karena (menjalankan)agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)

Imam Siddiq Hasan al Husaini berkata: Tidak ada perselisihan dikalangan ulama bahwa ikhlas merupakan penentu kualitas ibadah. Semaikin tinggi tingkat keikhlasan, semakin besar pula nilai ibadah itu di sisi-Nya. Amalan kecil jika ditopang dengan keikhlasan yang tinggi akan bernilai besar di sisiNya. Demikian pula, amalan yang besar jika tidak ditopang dengan keikhlasan yang besar akan bernilai kecil di sisi-Nya.

Makna Ikhlas

Secara bahasa, ikhlas bermakna bersih dari kotoran dan menjadikan sesuatu bersih, tidak kotor. Maka orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah saja dengan menyembah-Nya dan tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal.

Sedangkan secara istilah, ikhlas berarti niat mengharapkan ridho Allah saja dalam beramal tanpa menyekutukan-Nya dengan yang lain. Memurnikan niatnya dari kororang yang merusak.

Seorang yang iklas ibarat orang yang sedang membersihkan beras (napis beras) dari kerikil kerikil dan batu batu kecil di sekitar beras. Maka, beras yang dimasak menjadi nikmat dimakan. Tetapi jika beras itu masih kotor,  ketika nasih dikunyak akan tergigit kerikil dan batu kecil. Demikianlah keikhlasan, menyebabkan beramal menjadi nikmat, tidak membuat lelahm dan segala pengorbanan tidak terasa berat. Sebaliknya amal yang dilakukan dengan riya akan menyebabkan amal tidak nikmat. Pelakunya akan mudah menyerak dan selalu kecewa.

Kedudukan Ikhlas

Ikhlas adalah buah dan intisari dari iman. Seorang tidak dianggab beragama dengan benar jika tidak ikhlas. Allah Ta’ala berfirman : Katakanlah:”Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam” (QS Al-An’am:162) dalam surat (QS Al-Bayyinah:5)  Allah Ta’ala berfirman:” Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan Iklas menaati-Nya semata mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar). Rasulullah SAW bersabda:’ Keikhlasan dalam beragama, cukup bagimu amal yang sedikit.” Takala Jibril bertanya tentang ihsan, Rasulullah bersabda:” Engkau beribadah kepada Allah seolah olah engkau melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu” Rasulullah SAW bersabda,:” Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas dan mengharap ridha-Nya”

Fudhail bin Iyadh memahami kata ihsan dalam firman Allah Ta’ala surat Al-Mulk:2 berbunyi; “liyabluwakum ayyakum ahsanu ‘amala”, untuk menguji kamu, siapa diantara kamu yang lebih baik amalnya” dengan makna akhlashahu (yang paling ikhlas) dan ashwabahu (yang paling benar), maka tidak diterima dan jika amal itu benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima. Sehingga amal itu harus ikhlas dan benar. Ikhlas jika dilakukan karena Allah Azza wa Jalla dan benar jika dilakukan sesuai sunnah” Pendapat fudhail ini disandarkan pada firman Allah SWT di (QS Al-Kahfi : 110)

Karena itu tak heran jika Ibnul Qoyyim memberikan perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkan tetapi tidak bermanfaat” Dalam kesempatan ini beliau berkata “ Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah Tak’ala mencela para pendeta ahli Kitab.  Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, maka tidak mungkin Allah Ta’ala mencela orang orang munafik”

Ciri Orang Yang Ikhlas

Orang orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat diantaranya:

  1. Senantiasa beramal dan bersungguh sungguh daalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan. Ali bin Abi Thalib r.a berkata:”Orang yang riya memiliki beberapa ciri: malas jika sendirian dan rajin jika dihadapan banyak orang. Semakin bergairan dalam beramaljika dipuji dan semakin berkurang jika dicela”
  2. Terjaga dari segala yang diharamkan Allah Ta’ala, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka. Disebutkan dalam hadist: “aku beriotahu bahwa ada sesuatu kaum dari umatku dating di hari kiamat dengan kebaikan seperti gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah Ta’ala menjadikannya seperti debu debu yang berterbangan. Mereka adalah saudara saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah” (HR Ibnu Majah)

Perjuangan Untuk Ikhlas

Dan jika ada bersitan dalam jiwa selain keikhlasan, maka hendaknya kita ingat hal hal berikut ini:

  1. Bahwa Allah T’ala mengawasi mengetahui, mendengar, melihat kita. Firman-Nya: “ Dan Dialah Allah (yang disembah), Baik di langit maupun di bumi; Dia mengetahui apa yang kamu rahasiakan dan apa yang kamu lahirkan; dan mengetahui (pula) apa yang kamu suahakan” (QS Al-An’am:3)
  2. Bahwa orang yang ria (ingin dilihat orang) atau sum’ah (ingin di dengar orang) dalam beramal akan dibongkar oleh Allah Ta’ala semenjak di dunia sebelum diakhirat.dan mereka tidak mendapatkan bagian dari amal mereka selain dari apa yang diinginkannya. Rasulullah bersabda: ”Siapa yang ingin (amalnya) di dengar, maka Allah akan membuatnya dudebgar, dan barang yang ingin (amalnya) dilihat orang, maka Allah akan membuatnya dilihat orang” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
  3. Bahwa kekalahan yang diderita kaum muslimin dewasa ini adalah akibat kita sendiri. Firman-Nya” Sesungguhnya ASllah Ta’ala tidak berbuat zalim kepada maunia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat zalim kepada dirinya sendiri” (QS Yunus:44)
  4. Bahwa ketidakikhlasan menghancurkan amal besar maupun kecil dan dengan demikian berarti kita telah membuat perjuangan kita bertahun tahjun sia sia belaka. Allah Ta’ala berfirman :”Dan sesungguhnya telah merugilah orang yang telah melakukan kezaliman” (QS Thaha:111) “Dan kami hadapi segala amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan (QS Al-Furqan:23)
  5. Orang orang yang beramal bukan karena Allah, Ta’ala adalah orang yang pertama dibakar untuk menyalakan neraka. Dalam hadist panjangnya Rasulullah menjelaskan nasib tiga kelompok manusia yang celaka di hari8 akhirat karena beramal dengan riya
  6. Orang orang yang ria akan menjadi teman setan pada hari kiamat di dalam neraka jahanam. Mereka kekal di dalamnya. Cukuplah bagi kita kisah Quzman, seperti yang diterangkan oleh Qatadah- semoga Allah Ta’ala meridhoinya. Beliau menjelaskan, “diantara kami ada orang asing dan diketahui siapa dia. Dia dipanggil Quzman. Adalah Rasulullah, setiap disebut namanya selalu mengatakan bahwa dia termasuk penghuni neraka. Saat terjadi perang Uhud, Quzman terlibat dalam pertempuran sengit sampai berhasil membunuh delapan atau tujuh orang musyrik. Memang dia orang kuat,. Lalu ia terluka lalu dibopong ke rumah Bani Zhufr. Beberapa lelaki dari kaum muslimin mengatakan kepadanya ‘Demi Allah engkau telah diuji hari ini, hai Quzman, maka berbahagialah’. Quzman menjawab:’Dengan apa aku bergembira?, Jika bukan hal itu aku tidak akan turut berperang. Ketika merasakan lukanya semakin parah, ia mencabut panah dari tempatnya lalu bunuh diri”

Kita ingatkan bahwa jika kita demam [eromgatam [eromgatam tersebit agar ba;a, bergeral. Berkiamg, dan berkorban (tadhhiyah) senantiasa ikhlas karena Allah.

Pendekar Pendekar Keikhlasan

Adabeberapa hal yang bisa merusak keikhlasan yaitu:

  1. Riya’, iyalah memperlihatkan sesuatu bentuk ibadah dengan tujuan dilihat manusia, lalu orang orangpun memujinya.
  2. Sum’ah, yaitu beramal dengan tujuan untuk didengar oleh orang lain (mencari popularitas)
  3. ‘Ujub, masih termasuk kategori riya’ hanya saja Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah membedakan keduanya dengan mengatkan bahwa “riya masuk di dalam bab menyekutukan Allah dengan mahluk, sedangkan ujub masuk dalam bab menyekutukan Allah dengan diri sendiri.

Agar keikhlasan kita selalu menjaga maka kita harus merawatrnya. Rasulullah memberikan satu tips berupa doa “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesyirikan yang kami ketahui dan aku memohon ampun kepada-Mu dari kesyirikan yang tidak aku ketahui”

Wallahu a’alam bish showab

Muroji’:

  1. Kitab At-Targhib wat Tarhib
  2. Tazkiyah An _Nafs
  3. Al Ikhlas wa asy syirkul asghar
  4. Fi At Tariq Ilalah: An Niyya wa al ikhlas
  5. Al-Bidayah Wan-Nihayah

 

 

MERAYAKAN ULANG TAHUN

Oleh : Ust Hamdan, S.Pd

 

Pengaruh akulturasi budaya yang begitu cepat merupakan sesuatu yang tidak bisa kita hidari di era globalisasi ini. Kemajuan teknologi Informasi, komunikasi dan transportasi member pengaruh luas dalam kehidupan sehari hari, bahkan merombak sistem sosial. Globalisasi ekonomi dan budaya berpengaruh ppenciptaan kutur yang homogen yang mengarah pada penyeragaman selera, konsumsi, gaya hidup nilai, identitas dan kepentingan individu.

Sebagai produk modernitas, globalisasi tidak hanya memperkenalkan masyarakat di pelosok dunia, akan kemajuan dan kecanggihan sains dan teknologi seta prestasi lain seperti instrument dan institusi modern hasil capaian peradaban Barat sebagai dimensi institusional modernitas, tetapi juga mengintrodusir dimensi budaya modernitas, seperti nilai nilai demokrasi, pluralisme, toleransi, dan hak hak asasi manusia. Banyaknya hasil alkuturasi budaya dan kuatnya serangan pemikiran yang dilancarkan oleh orang orang kafir untuk mengaburkan pemaham Islam telah kita rasakan dampaknya pada era kita saat ini. Berbagai pemikiran dan kebiasaan (tradisi) yang tidak datang dari Islam telah menyusup ketengah tengah kehidupan kaum muslimin, salah satunya adalah kebiuasaan merayakan ulang tahu hari kelahiran.

Saat ini perayaan ulang tahun telah menjadi tradisi yang begitu melekat dalam masyarakat kita. Bukan hanya perayaan ulang tahun kelahiran seseorang saja yang sekarang ini dirayakan, ulang tahun pernikahan, ulang tahun lembaga pendidikan, ulang tahun perusahaan, ulang tahun institusi atau bada  tertentu, ulang tahun kotaaaa, ulang tahun kemerdikaan semuanya diperingati, bahkan yang lebih ironis lagi lembaga lembara organisasi organisasi yang mengatasnamakan umat Islam, seperti Pondok Pesantren pun  memperingati hari jadinya (milad). Berbagai bentuk acara dilaksanakan dalam tradisi perayaan ulang tahun ini, mulai dari tiup lilin, memorong nasi tumpeng, memotong kue ulang tahun, lomba lomba, pesta pesat, dan lain sebagainya.

Nikmat usia pada hakekatnya adalah sesuatu kontrak masa hidup kita di dunia yang akan terus berkurang seiring berjalannya waktu, sehingga tidak pantas bagi kita untuk berpesta (merasa gembira) diatas berkurangnya waktu hidup kita. Justru seharusnya kita bersedih atas hal tersebut, dan senantiasa bertanya dalam diri kita; apakah waktu yang sudah kita lewati telah kita gunakan sesuai dengan tuntutan dari Allah Ta’ala? Jangan jangan kita termasuk ke dalam golongan orang orang yang akan menyesali sebagaian usia kita dihadapan Allah saat hari hisab, karena tidak digunakan seoptimal mungkin untuk berbuat sesuatu bernilai ibadah.

Berbicara tentang perayaanh hari ulang tahun dari sudut pandang hokum Islam, harus dikembalikan kepada sandaran utama kita yakni Al Qur’an dan  Sunnah Rasulullah. Sebagaimana telah dijelaskan diatas bahjwa perayaan hari ulang tahun kelahiran bukan berasal dari ajaran Islam, maka mengadakan perkara yang tidak ada tuntunan dari Syariat Islam akan bertolak walaupun dimaksudkan untuk kebaikan sebagaimana dijelaskan dalam hadist: “Barang siapa yang melakukan perbuatan yang tidak berdasarkan perintah (ketentuan) dari kami maka bertolak” (HR Muslim)

Dalam Islam hukum merayakan ulang tahun tidak ditemukan dalam nash, baik yang secara langsung melarang dan yang menganjurkannya. Kita tidak menemukan riwayat yang menceritakan bahwa setiap tanggal kelahiran Rasulullah SAW, beliau merayakannya atau sekedar mengingat ingatnya. Begitu juga para sahabat, tabiin dan para ulama salafus shalih. Kita juga tidak pernah dengar misalnya Iman Syafi’i merayakan ulang tahun lalu potong kue dan tiup lilin.

Bukankah Rasulullah telah melarang kita untuk bertasyabuh menyerupai/meniru prilaku orang kafir? Maka simaklah hadist beritkut “ barang siapa yang menyerupai sesuyatu kaum maka ia termasuk golongan mereka” (HR Abu Daud, Ahmad dan Ath Thabrani) “Bukan termasuk (golongan) kami yaitu orang yang bertasyabuh (menyerupai) selain kami” (HR tarmizi)

Merayakan ulang tahun tidak diragukan lagi merupakan aktifitas peniruan terhadap perbuatan orang kafir. Tidak itu saja, perayaan tahun baru, valentine day dan perayaan perayaan lainnya bahkan tidak digunakannya system Islam sebagai sistem hidup bersama (konstitusi negara) juga termasuk ke dalam meniru prilaku orang kafir.

Adapun mensyukuri nikmat Allah atas umur dan semua anugerah-Nya sepanjang hidup kita dan memohon keselamatan dunia akhirat tidak harus mengunggu ulang tahun tiba, yang hanya stahun sekali, Melakukan hal tersebut (bersyukur atas ni’mat dan berdo’a) haris kita lakukan  setiap saat, terutama setelah shalat yang merupakan salah satu waktu diijabahnya do’a.

Justru mengadakan pengkhususan aktifitas tersebut pada hari ulang tahun merupakan perkara yang menyelisihi Islam dan sesekali lagi merupakan bentuk pengekorang kita kepada ajaran kufur.

Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh pernah ditanya seputar hukum perayaan ulang tahun (milad) dan beliau menjawab bahwa Islam tidak punya tempat untuk perayaan semacam itu. Syaikh juga mengeluarkan daftar seluruh kebiasaan asing yang menurutnya tidak patut. “orang Kristen punya hari ibu, pesta untuk pohon, dan setiap kesempatan berpesta. Di setiap ulang tahun, lilin lilin dinyalakan dan makan makanan dihidangkan.” Kata Syaikh kepada surat kabar Al Madina.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin: Perayaan ulang tahun anak tidak lepas dari dua hal, dianggab sebagai ibadah, atau hanya adat kebiasaan saja. Kalau dimaksudkan sebagai ibadah, maka hal itu termasuk bid’ah dan penegasan bahwa dia termasuk sesat telah datang dari Nabi Shallallahu ‘ Alaihi wa salam. Beliau bersabda: “ Jauhilah perkara perkara baru, sesungguhnya setiap bid’ah adalah sesat. Dan setiap kesesatan berada dalam neraka” Namun jika dimaksudkan sebagai adat kebiasaan saja, maka hal itu mengandung dua sisi larangan:

  1. Menjadikannya sebagai salah satu hari raya yang sebenarnya bukan merupakan hari raya(‘Ied) Tindakan ini berarti suatu kelancangan terhadap Allah dan Rasul Nya, dimana kita menetapkannya sebagai “Ied (hari raya) dalam Islam, padahal Allah dan rasulNya tidak pernah menjadikannya sebagai hari raya. Saat memasuki kota Madinah, Nabi Shallalklahu ‘Alaihi Wa Salam mendapati dua hari raya yang menggunakan kaum Anshar sebagai waktu bersenang senang dan menganggabnya sebagai hari ‘Ied, maka beliau bersabda “ Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian hari yang lebih baik dari keudanya, yaitu “Idul Fitri dan ‘Idul Adha”
  2. Adanya unsur tayabbuh (menyerupai) dengan musuh musuh Allah. Budaya ini bukan merupakan budaya kaum muslimin, namun warisan dari non muslim. Rasulullah Shallallahu ‘alai wa sallaj bersabda:”Barang siapa meniru niru suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka”

Kemudian panjang umur bagi seseorang tidak selalu berbuah baik, kevuali kalau dihabiskan dal;am menggapai keridaan Allah dan ketaatanNya. Sebaik baiknya orang adalah orang yang panjang umurnya dan baik amalannya. Sementara orang yang paling buruk adalah manusia yang panjang umurnya dan buruk amalannya

Karan itulah, sebagai ulama tidak menyukai doa agar dikaruniakan umur panjang secara mutlak. Mereka kurang setuju dengan ungkapan ;”Semoga Allah memanjangkan umurmu”  kecuali dengan keterangan “dalam ketaatannNya”, atau “dalam kebaikan” atau kalimat yang serupa, alasannya umur panjang kadangkala tidak baik bagi yang bersangkutan, karena umur yang panjang jhika disertai dengan amalan yang buruk-semoga Allah menjauhkan kita darinya-hanya akan membawa keburukan baginya serta menambah siksa dan malapetaka.

Allah SWT berfirman:”Dan orang orang yang mendustalkan ayat ayat kami, nanti kami akan menarik mereka dengang berangsur angsur (kearah kebinasaan), denan cara yang tidak mereka ketahui. Dan aku member tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencanaku amat teguh” (QS Al-Araf: 182-183)

Dan firman Allah SWT: “Dan janganlah sekali kali orang kafir menyangka bahwa pemberian tangguh Kami kepada mereka adalah lebih baik bagi mereka. Sesungguhnya kami member tangguh kepada mereka hanyalah supaya bertambah tambah dosa mereka, dan bagi mereka azab yang menghinakan” (QS Ali- Imran:178)

Marilah kita renungkan sabda Nabi SAW:”Sungguh kamu akan mengikuti sunah sunah ((jalan hidup) bangsa-bangsa sebelum kamu sejengkal sejengkal, sehasta demi sehasta sehingga seandainya mereka masuk lubang biawak sungguh kalian akan mengikutinya. Mereka (para sahabat) bertanya: (apa yang engkau maksud ialah) Yahudi dan Nasrani? Jawab Rasul: “ Lalu siapa lagi?” (HR Bukhori, Ahmad)

Marilah kita bentengi generasi kita dan generasi sesudah kita dari serangan budaya-budaya kufur yang kian hebat masuk kedalam negeri kita. Semoga Allah memberikan kekuatan bagi saya, keluarga saya, anda dan pembaca umumnya untuk dapat menamalkan segala kebenaran yang dating dari Allah dan RasulNya. Amien

Maroji’:

  1. Engkaulah Rasul Panutan Kami
  2. Fataawa Syaitkh Al-“Utsaimin
  3. Fatawa Ath-tiflul Muslim
  4. At Tahdzir Minal Bida’

 

 

KHUTBAH JUM’AT

Oleh: Ust. Hamdan, S.pd

 

 

Diantara syiar Jum’at yang paling besar ialah dua khutbah. Dalam pelaksanaanya, banyak diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan adab-adab Jum’at, terutama ketika khutbah Jum’at itu disampaikan. Bahkan masih ada saja orang yang belum atau bahkan tidak faham tentang hal itu, sehingga masih dijumpai setiap pelaksanaan shalat Jum’at, sehingga batalah (sia-sia dan tidak mendapat pahala) Jum’atnya dengan tanpa disadari. Dan diantara adab orang yang mendengarkannya ialah diam dan mendengarkan khatib selama dua khubah itu disampaikan, agar dia dapat menyerap nasehatnya dan mengamini doanya.

Hukumnya

Mayoritas ulama berpendapat bahwa hukum khubah Jum’at adalah wajib. Mereka berpegang pada hadits hadits shahih yang menyatakan bahwa setiap kali Rasulullah SAW Melaksanakan shalat jum’at, beliau selalu menyertainya dengan khutbah. Mereka juga mengemukakan sabda Rasulullah SAW:” Shalatlah kalian sebagaimana kalian shalat melihat aku shalat” Mengucap salam ketika berada diatas mimbar. Khatib diwajibkan mengucapkan salam apabila sudah naik di atas mimbar dan adzan dikumandangkan apabila dia sudah duduk  di atas mimbar, serta makmum dianjurkan menghadap ke arahnya. Jabir mengatakan:” Apabila Rasulullah naik ke atas mimbar, beliau mengucapkan salam” (HR Ibnu Majah dan di dalam sanadnya terdapat Ibnu Lahi’ah)

Isi Khutbah

Disunnahkan isi khutbah itu mengandung pujian kepada Allah, dan sanjungan terhadap Nabi SAW dan nashihat bacaan Al Qur’an. Dari  Abu Hurairah ra, dari Nabi SAW bersabda:”Setiap pembicaraan yang tiada dimulai dengan ucapan pujian kepada Allah, maka ia terputus” (HR Abu Daud, juga oleh Ahmad dengan maksud yang sama). Dari Ibnu Mas’ud, bahwa Nabi SAW bila memulai khubahnya beliau mengucapkan “Alhamdulillahi nasta’inuhu wa nastaghfiruh wa na’udzu billahi min syururi anfusina man yahdillahu fala mudlillalah wa man yudlil fala hadiyalah wa asyhadu alla ilaaha illallah wa asyhadu anna Muhammadanm’ abduhu wa Rasuluh arsalahu….” Artinya Segala puji bagi Allah kami mohonkan pertolongan serta keampunan kepadanya, dan kami berlindung kepadaNya dari kejahatan kejahatan diri kami sendiri. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya, sebaliknya barang siapa yang disesatkannya, maka tiada seorangpun yang dapat memberinya petunjuk. Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan persuruhNya, yang diutus dengan kebenaran,….”  (HR Abu Daud). Dari Jabir ra katanya: “ Nabi SAW  tiadalah memanjangkan nasehatnya pada hari Jum’at, beliau hanya memberikan amanat amanat yang singkat saja”(HR Abu Daud)

Dalam buku Ar Raudlatun Naddiyah disebutkan: “ Ketahuilah bahwa khutbah yang disyari’atkan itu ialah yang bisa dilakukan oleh Rasulullah SAW, yakni berisi kabar gembira atau peringatak kepada ummat manusia. Inilah sebelumnya menjadi jiwa khutbah. Adapun syarat sayarat seperti Alhamdulillah salawat atas Rasulullah, bacaan Al Qur’an semua itu adalah diluar tujuan dari disyari’atkannya khutbah. Dan apabila hal itu kebetulan dikerjakan oleh Nabi SAW, maka hal itu dipandang sebagai suatu syarat yang wajib dilakukan.  Setiap orang yang sadar tentu mengakui bahwa tujuan utama dari khutbah ialah member nasehat dan bukan bacaan. Alhamdulillah atau shalawat Nabi. Memang, adalah suatu hal yang lazim bagi bangsa Arab. Bila hendak melakukan pidato selalu dimulai dengan pujian kepada Allah dan rasulNya, Dan hal ini memang baik dan terpuji. Tetapi ini bukalah yang dituju, karena yang sebenarnya dituju ialah uraian sesudah itu.  Seandainya ada yang berkata bahwa maksud seseorang tampil memberikan wejangan di tempat umum, ialah untuk menyampaikan pujian kepada Allah dan shalawat kepada rasulNya semata sudah jelas hal itu tidak dapat diterima, dan setiap pikiran yang sehat tentu akan menyangkalnya. Nah apabila hal ini telah dipahami jelas bahwa uraian dalam khutbah Jum’at, sebenarnya telah cukup dan terpenuhi dengan adanya nasehat yang dikemukakan oleh khatib dan memang itulah yang diperintahkan. Hanya saja kalau dia memulai uraiannya itu dengan pujian kepada Allah serta RasulNya kemudian dalam kupasannya itu dibacakan pula ayat ayat Al Qur’an yang ada sangkut pautnya dengan acara, maka demikian itu adalah lebih bagus dan lebih sempurna.

Khutbah Dengan Bahasa Non Arab

Syaikh Ibnu Utsaimin Rahimahullah, pernah ditanya tentang masalah ini dan beliau menjawab bahwa tidak boleh bagi khatib berbicara ketika khubah jum’at dengan bahasa yang tidak dipahami oleh jama’ah yang hadir. Apabila jama’ah tersebut bukan orang arab, dan tidak paham bahasa Arab, maka khotib lebih tepat berkhutbah denan bahasa mereka, karena bahasa adalah pengantar agar sampai penjelasan kepada mereka. Alas an lain karena maksud (tujuan) dari khutbah adalah untuk menjelaskan hukum Allah Subhanahu wa ta’ala pada hamba-Nya, juga memberikan nasehat dan petunjuk. Namun ketika membaca ayat Al Qur’an  haruslah dengan bahasa Arab, lalu setelah itu boleh ditafsirkan dengan bahasa yang dipahami oleh jama’ah. Allah Ta’ala berfirman:” Tidaklah kami mengutus seorang Rasul kecuali dengan bahasa kaumnya untuk member penjelasan pada mereka” (QS Ibrahim) Dalam ayat ini  Allah Ta’ala menjelaskan bahwa agar sampainya penjelasan, hendaklah pembaca menggunakan bahasa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara.

Beridiri Dalam Kedua Khubah dan Duduk Diantrara Keduanya

Dari Ibnu Umar ra katanya:” Nabi SAW selalu berdiri di waktu khubah, kemudian duduk lalu berdiri lagi sebagaimana yang dilakukan sekarang” (HR Jamma’ah). Dan dari Jabir Samurah, katanya:” Nabi SAW khutbah sambil berdiri, lalu duduk kemudian berdiri untuk berkhutbah lagi. Barang siapa mengatakan bahwa beliau berkhutbah sambil duduk, maka jelas ia berdusta. Sungguh dan demi Allah, saya telah bersembahyang dengan beliau lebih darai dua ribu kali”  maksudnya dengan shalat lima waktu- (Riwayat  Ahmad, Muslim dan Abu Daud)

Disunnahkan Mengeraskan Suara, Mempersingkat Khutbah dan Memperhatikannya Dengan Seksama.

Dari Amir bin Yasir ra, katanya:” Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya panjangnya shalat dan singkatnya khutbah, menunjukan pengertian seseorang dalam soal agama. Dari itu panjangkanlah shalat dan singkatkanlah khutbah!” (HR Muslim dan Ahmad).  Dikatakan bahwa khutbah yang pendek dan shalat yang panjang itu sebagai tanda pengertian seseorang dalam agama, sebabnya adalah karena seseorang yang mengerti, dapat memilih uraian yang padat dan bernash serta tidak ngelantur. Kemudian dari Jabir ra , katanya: “Apabila Rasulullah SAW berkhutbah, kedua matanya merah, suaranya keras, dan semangatnya bangkit bagaikan seorang panglima yang memperingakan kedatangan  musuh yang hendak menyergap diwaktu pagi atau di waktu sore.” (HR Muslim dan ibnu Majah) Berkata Nawsawi:” Disunnahkan khutbah itu dengan kata kata yang fasih dan lancar, tersusun dan teratur rapi, mudah dimengerti, jangan terlalu tinggi dan jangan pula bertele tele atau melantur tidak karuan, sebab hal demikian ini tidak akan membekas sedikitpun dalam hati. Maka sebaiknya dipilih kata kata yang mudah, singkat dan berisi”

Memutuskan Khutbah karena Sesuatu hal

Dari Abu Buraidhah ra, Katanya:” Ketika Rasulullah SAW berkhutbah, tiba tiba datang Hasan dan Husain, berpakaian gamis merah dan berjalan tetatih tatih. Maka Rasulullah SAW  pun turun dari mimbar, lalu digendongnya kedua anak itu dan didudukannya di depannya, lalu bersabda: “Sesungguhnya harta benda dan anak anakmu itu jadi fitnah – ujian,. Tadi saya melihat kedua anak ini berjalan dan seperti akan jatuh, sehingga saya tidak sabar lagi dan saya putuskan pembicaraanku, lalu keduanya saya naikan ke sini” (HR Khomsah).  Dari Abu Rifa’ah Al Adawy ra katanya: Saya datang untuk menjumpai Rasulullah SAW dan pada waktu  itu beliau sedang berkhubah, lalu saya katakana:” Ya Rasulullah, saya ini seorang anak pedagang. Dan ingin menanyakan tentang agama, karena saya belum lagi tahu apa agama itu”. Beliaupun menemui saya dan meninggalkan khutbahnya. Kemudian dibawakan oleh seorang kursi dari kayu berkaki besi, dan setelah beliau duduk diatasnya, diajarkalah oleh beliau kepadaku sebagian dari apa apa yang telah diajarkan Allah Ta’ala kepadanya. Setelah itu beliau kembali lagi ketempatnya semula dan menyelesaikan khubahnya”. (HR. Muslim dan Nasai)

Berkata Ibnu Qayyim:” Rasulullah SAW memutuskan khutbahnya bila ada sesuatu kepentingan atau ketika ditanya oleh seseoarang sabatnya untuk memberikan jawaban. Kadang kadang beliau pergi untuk sesuatu keperluan, lalu kembali untuk menyelesaikan khutbahnya, seperti yang terjadi ketika beliau turun untuk mengambil kedua orang cucunya Hasan dan Husain, Keduanya dinaikan di atas mimbar, kalu beliau menyelesaikan khutbahnya. Kadang kadang beliau juga memanggil seseorang sewaktu berkhutbah.

Berbicara Ketika Khatib Berkhutbah

Jumhur Ulama sependapat bahwa mendengarkan khutbah itu wajib, dan berbicara menentara khatib sedang berkhutbah adalah haram. Sekalipun  larangan itu berupa perintah  untuk kebaikan atau larangan dari kejahatan, dan tidak ada bedanya apakah seorang itu dapat mendengarkan khutbah atau tidak. Dari Ibnu Abas ra. Bahwa nabi SAW bersabda: “Barang siapa berbicara pada hari jumat diwaktu imam berkhutbah, maka ia seperti keledai yang memikul kitab, sedang siapa yang mengingatkan orang itu dengan kata kata “diamlah” maka tidak sempurnalah jum’atnya” (HR Ahmad, Ibnu Abi Syaibah, Bazzar dam Tabrani). “yang menghadiri Jum’at itu ada tiga golonganm: a, Orang yang menghadirinya dan bercakap-cakap. Maka sekedar bercakap cakap itu hanyalah bagian dari jum’at. b, Orang yang menghadirinya dan ida berdoa kepada Allah SWT, maka terserah kepada  Allah apakah akan dikabulkannya atau tidak, dan c, Orang yang menghadirinya dengan diam dan mendengarkan serta tidak melangkahi pundak seorang muslimin, tidak pula mengganggu orang lain, maka shalat jum’atnya itu menjadi penebus dosanya sampai jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari lagi, karena Allah Azza Wa Jalla berlah berfirman:” Barang siapa yang telah melakukan kebaikan, ia akan mendapakan pahala sepuluh kali lipat” (HR Ahmad dan Abu Daud).

Imam Syafi’i dan Imam Ahmad, membedakan antara orang yang dapat mendengarkan dan yang tidak dapat mendengarkan khutbah. Jika dapat mendengarkannya, maka haram berbicara, dan jika tidak maka tidak haram, walaupun diam tetap sunnah. Imam Tarmudzi meriwayatkan pendapat Imam Ahmad dan ishak bahwa diberi kelonggaran bicara bagi orang yang hendak menjawab salam oranglain, atau menjawab tahmid bagi orang yang bersin, walaupun imam sedang berkhutbah.

Wa Allahu A’lam

Marja’:

  1. Kitab fiqih Sunnah, Sayyid Sabiq
  2. Fatwa, Syeikh Al Utsaimin

 

 

INDAHNYA NIKAH (Lagi)

Oleh:Ust Taqdir Syamsudin Ali, SE, MM

 

 

Nikah itu memang indah, rasanya tidak perlu pembutian yang panjang lebar untuk menujukan betapa indahnya pernikahan bagi orang orang yang saling mencintai. Sepanjang sejarah umat manusia, banyak cerita mengharukan yang mengiringi kelangsungan pernikahan. Ada tangisan? memang ada tapi itu tangisan kebahagiaan. Bagi bujangan saja terlintas begitu indahnya, apalagi bagi dua insan yang saling mencintai?! Masya Allah indah sekali. “ Dan diantara tanda tanda kekuasaannya ialah dia menciptakan untukmu istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantarmu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar benar terdapat tanda tanda bagi kamu yang berpikir” (QS Ar-Ruum :21).

GEJOLAK JIWA

Bila telah tiba waktunya, kesibukan kerja, kuliah ataupun dakwah tidak akan dapat menghalau kebutuhan untuk bersanding bersama orang lain sebagai suami istri. Tuntutan fitrah ini akan memanggil setiap saat, dimana tiada pelabuhan yang sanggup menenangkan kegelisahan itu kecuali segera menikah. Ketika fitrah nikah ini akan kita abaikan maka kegalauan hati dan kegelisahan jiwa akan selalu menghantui. Dan jika panggilan itu semakin kuat, bisa jadi yang tidak kita inginkan terjadi Zina!. Ada mahsiswi yang mengatakan “sekarang saya minum pil untuk memperlancar haid agar tidak hamil” Subhanallah! Takut hamil, akan tetapi tidak takut azab Allah.

SAATNYA MENIKAH (lagi)

Fitrah insan akan selalu mendorong untuk cepat cepat menikah, ketika sudah tiba waktunya  barangkali ada yang tidak ‘pede’ untuk melangsungkan pernikahan dan masih ada dilema”apakah sudah saatnya saya menikah?” Usia bukanlah ukuran yang pasti, banyak diantara ikhwan yang menjadi ukuran sunnahnya menikah itu usia 25 tahun, sebagaimana usia rasulullah. Akan tetapi pengambilan ibrah ini tidak 100% benar. Apalagi yang mengatkan bahwa nikah umur 30 tahun itu ingkarus sunnah ini jelas tidak benar. Rasulullah juga pernah menganjurkan sahabatnya menikah dibawah umur itu. Malah ada sahabat yang selisih umurnya dengan anaknya Cuma 12 tahun. Kalau hal tersebut direstui oleh Rasulullah berarti merupakan sunnah juga. Ibrah yang perlu diperhatikan adalah taujih Rasul kepada para pemuda yang mampu untuk segera menikah. Kalau begitu 25 tahun bukanlah ketentuan final. Lalu apa barometer sunnah dalam hal saatnya menikah ini? Rasulullah bersabda: “ Wahai para pemuda, barang siapa diantara kamu telah berkemampuan ba’ah (nafkah lahir bathin) maka menikahlah”

Kemudian apa tanda tandanya seseorang perlu menikah? Akhi fillah, tanda tandanya diantaranya:

  1. Jika anda sudah merasa gelisah pada malam malam sepi mencekam tanpa teman yang mendampingi, itulah saatnya anda harus mencari seorang istri.
  2. Jika anda sudah tidak kuat lagi ketika melihat akhwat (wanita muslimah) yang sedang lewat, itulah saatnya anda harus meminang.
  3. Jika anda sudah sulit menahan nafsu, dan ada calon istri yang mau maka itulah saatnya anda menikah.

Saatnya menikah, atau bahkan saatnya menikah lagi akan terasa lebih menggelora ketika seorang itu telah merasakannya manis dan gelak candanya pernikahan. Adalah penderitaan Abdulah bin Abu Bakar Ash-Shidik takala  terpisah dari isrinya yang sangat dicintainya, Atikah. Namun karena khawatirnya Abu Bakar akan melemahnya ghairah islamnya maka dimintanya untuk menceraikan dengan talak satu. Abdulahpun benar benar melaksanakannya. Namun kerinduannya akan seorang istri tidak dapat dibendung lagi. Abu Bakar sempat melihatnya ia sendirian menangis dan melantunkan sebuah syair sebagai berikut:” Aku tidak pernah melihat orang sepertiku yang tega menceraikannya. Tidak pula dirinya yang dicerai tanpa dosa Ia mempunyai ahlaq yang baik dan kelembutan yang lurus di dunia dan dihari nanti”. Trenyuh dan luluhlah hati Abu Bakar mendengar ungkapan jiwa anaknya. Maka ia memerintahkan untuk merujuknya kembali dengan Atikah. Bagaimana pula dengan duda duda yang belum sempat nikah lagi?!

MENGENAL CALON SUAMI/ISTRI

Mengenal calon suami atau calon istri itu merupakan langkah awal yang harus diperhatikan. Kelalaian dalam masalah ini akan mengakibatkan kekecewaan. Sebuah bayangan kelam dan mengenaskan akan masa lalu yang sangat mungkin akan terbawa sampai mati. Orang tua yang bijak tidak akan sembarangan menyerahkan anak wanitanya kepada laki laki yang tidak jelas ke-shalihannya.  Boleh jadi ia akan menyengsarakan, memukuli, menyakiti dan kemudian menceraikannya tanpa peduli. Perceraian itupun mungkin ada mafaatnya, yaitu terputusnya siksaan secara langsung, akan tetapi apakah kita dapat menjamin ketenangan bathinnya yang menderita?! Siapa yang merasakan kekecewaan itu? Orang tua yang bijak tidak akan sembarangan menikahkan putrinya. Keshalihan adalah standar yang harus kita utamakan.

Ada kisah seorang akhwat yang dipinang oleh seorang laki laki, maka bertanyalah ia perihal laki laki itu kepada teman yang mengenalnya. Temannya member informasi yang “ melebih-lebihkan” baik tentang diennya maupun akhlaknya. Namun ketika peminang dan keluarganya bermaksud “mengikat (sisetan, jawa)” ternyata menghendaki tukar cincin?!  Bagaimana mungkin laki laki yang shalih memakai cincin emas? Bukankah laki laki itu diharamkan memakai emas? Allahu akbar!.

Ada kisah lagi seorang ahwat (mahasiswi) yang mau dijodohkan oleh katakanlah ‘ustadznya’ informasi ustadznya adalah diennya bagus! Luluhlah hati sang ahwat dan seterusnya dengan iklas menerima  pinangannya. Kisah selanjutnya, calon suami sering komunikasi untuk memper erat ta’aruf, namanya juga calon suami. Yang menjadi ‘kejutan’ adalah  calon suami mengajak jalan jalan berdua. Allahuakbar! Bagai disambar petir, apakah ini orang dikatakan diennya bagus? Bukankah Islam mengharamkan ikhtilath tanpa muhrim? Allahu akbar!. Ingatlah wahai saudaraku, berbagai kasus “ganjalan” pernikahan bermula dari informasi yang tidak tepat, akan kepribadian calon suami ataupun calon istri. Pernah suatu hari seorang berkata kepada Amirul Mukminin Umar bin Khattab ra. Bahwa si fulan itu jujur, maka amirul mukminin bertanya kepadanya;”Apakah engkau kenal benar dengan orang ini?” ‘Ya” jawabnya. “Apakah engkau bertetangga dengannya dan tahu keadaan yang sebenarnya?”, “tidak” jawab orang itu. “apakah engkau pernah menemaninya dalam perjalanan sehingga engkatu tahu pasti karakter dan akhlaknya?”  “Tidak” jawabnya jujur. “Cukup!” berarti engkau hanya mengenalnya ketika ia berdiri dan duduk di masjid”. Tegas Amirul Mukminin.

Ada pelajaran menarik dari wawancara ini, bahwa tidak setiap yang kenal baik bisa menjadi sumber informasi yang utama, harus diuji lagi. Sumber informasi yang kita harapkan adalah yang hanif, Ia tidak mempunyai “kepentingan Khusus” dalam proses pernikahan ini dan tidak melebih lebihkan. Ia juga paham persepsi dan tolok ukur kita tentang baik dan tidaknya agama seseorang. Boleh jadi ia tulus dengan informasinya, akan tetapi baik menurutnya apakah sudah sesuai dengan persepsi baik menurut kita? Oleh karena itu penting bagi kita untuk mengecek ulang informasi. Jangan menggantungkan satu informasi saja dan afdhalnya tanyakan langsung kepada Allah dengan shalat istikharah. Ada kisah menarik dari seorang da’i  Indonesia di Jerman. Beliau ingin nikah, temannya mempertemukannya dengan anak janda, cantik memang! Da’i kita ini mengatakan: “secara dzahir saya mau, namun saya mau istikharah dulu” setelah istikarah ternyata dapat gambaran yang meyakinkan untuk segera menikah. Tetapi dengan ibunya, bukan dengan wanita yang ia nadzor padanya. Nikahlah ustadz ini dengan ibu wanita itu.

BERANIKAH MEMINANG

Banyak diantara ikhwan yang sudah meluap luap semangatnya untuk menikah. Bekalpun cukup, akan tetapi kurang punya nyali untuk meminang. Akhirnya sering kedahuluan orang lain. Akhi fillah, meminang itu sunnah, mengamalkannya juga mendapatkan pahala. Yang anda butuhkan adalah kuatkan azam/tekad dan pinang titik. Jika anda diterima ucapkan Alhamdulillah, dan jika ditolah ucapkanlah Allahu Akbar. Islam mengajarkan kepada kita, Allah berfirman”Dan jika kamu sudah bulad tekad, maka tawakkallah kepada Allah” (QS Ali-Imran:159). Rasulullah Shallallahu’Alaihi Wasallam bersabda:”Tiga orang yang berhak atas pertolongan Allah: Mujahid fi Sabilillah, Mukatab (hamba sahaya yang ingin memerdekakan dirinya) dan orang yang nikah karena menginginkan terpeliharan dirinya” (HR Bukhari)

Wallahu a’lam Bish showab

ITTIBA’ MANHAJ SALAF

Oleh: Ust Hamdan, S.Pd

 

 

 

Manhaj Salafush Sholihin dan kewajiban mengikutinya. Dari Abu Sa’id Al Khudry ra, bahwa Rasulullah bersabda: “Janganlah kamu mencaci maki sahabat sahabatku. Demi Allah yang diriku ada ditengah-Nya, seandainya salah seorang diantara kamu menginfakkan emas sebesar gunung Uhud, nilainya tidak mencapai satu mud yang diinfakkan mereka (para sahabat), bahkan setengahnyapun tidak”

PENGERTIAN SALAF

Secara bahasa “salaf” artinya sekelompok pendahulu atau suatu kaum yang mendahului dalam perjalanan. Jadi makna salaf adalah orang yang telah mendahului kalian baik itu nenek moyang maupun kerabat keluarga kalian, mereka di atas kalian baik dari segi umur maupun ataupun kebaikannya. Oleh karena itu, generasi pertama dari kalangan Tabi’in dinamakan “as-Shalafush Shalih (lihat kamus bahasa Arab: Taajul ‘Aruus, Lisaanul “Arab dan al Qaamuusul Muhuth: (bab Salafa).  Sedangkan salafus sholih menurut kalangan ulama aqidah: generasi permulaan Islam dari kalangan sahabat, tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in yang hidup di masa (tiga abad pertama) yang dimuliakan dari kalangan para imam yang telah diakui keimanannya, kebaikannya, kepahamanya terhadap as-Sunah dan keteguhannya dalam menjadikan as-sunnah sebagai pedonan hidupnya, menjauhi bid’ah dan dari orang orang yang telah disepakati oleh ummat tentang keimanan mereka serta keagungan kedudukan mereka dalam agama.

Allah berfirman, “ orang orang yang terdahulu lagi yang pertama tama (masuk Islam) diantara orang orang muhajirin dan anshar serta orang orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allaha ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi  mereka surge surga yuang mengalir sungai sungai didalamnya, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah:100). Dari sahabat ‘Abdulah bin Mas’ud, Nabi Muhamad SAW bersabda “ Sebaik baiknya manusia adalah (orang yang hidup) pada masaku ini (yaitu generasi sahabat), kemudian yang sedudahnya (generasi Tabi’in) kemudian generasi yang sesudahnya (generasi Tabi’ut Tabi’in)” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

WAJIBNYA MENGIKUTI MANHAJ SAL;AFUSH SHOLIH

  1. Dari Al Qur’an

Firnman Allah SWT berfirman “ Orang yang terdahulu lagi pertama tama (masuk Islam) dari orang orang Muhajirin dan Anshar dalam orang orang yang mengikuti merekas dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga surge  yang  mengalir sungai sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya selama lamanya, Itulah kemenangan yang besar” (QS At-Taubah:100) Ayat ini sangat tegas menunjukan wajibnya mengikuti jalan para Salaf dan bahwa orang orang yang mengikuti mereka dengan baik akan mendapatkan keridhaan dan mendapatkan pahala surga. Mereka ini menunjukan bahwa orang yang tidak mengikuti mereka akan mendapat siksaan dan tidak akan mendapatkan keridhaan.

Bahkan Allah  ‘Azza Dzikruhu mengancam orang orang yang menyelisihi jalan para salaf dalam firman-Nya: “Dan barang siapa menentang Rasul sesudah jelas kebenarann baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang orang mukminin, Kami biarkan  ia larut dalam kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk buruknya tempat kembali” (QS An- Nisa:115)

  1. As-Sunnah

Dalam hadits  ‘Abdullah bin Mas’ud ra Nabi Muhammad SAW bersabda: “ Sebaik baiknya manusia adalah zamanku, kemudian zaman setelahnya kemudian zaman setelahnya” (HR Al-Bukhari danb Muslim, Hadist ini adalah hadits  yang mutawir).  Hadits ini sangat tegas sekali menunjukkan keutamaan tiga generasi pertama dari umat ini yaitu generasi As-Salaf Ash-Sholih bahwa mereka adalah sebaik baiknya generasi yang pernah lahir dari umat ini. Dan Al- khairiyah (kebaikan) yang terdapat pada mereka adalah pada mereka ada pada semua sisi kebaikan dalam agama. Maka merekalah yang terbaik jalannya, paling dalam ilmunya, paling lurus pemahannyua paling sedikit salahnya dan yang paling mulia di sisi Allah SWT. Dan ini menunjukan wajibnya mengikuti jalan para ulama Salaf Rahimahullah.

Dalam Hadits  “Irbadh bin Sariyah ra beliau berkata ;” Nabi Shollallahu ‘ailai wa alaihi wasallam bersabda …. Karena sesungguhnya siapa yang hidup diantara kalian setelahku, maka dia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian untuk berpegang teguh kepada sunnahku dan kepada sunnah Al Khulafa” yang mendapat hidayah dan petunjuk.  Berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi gigi geraham kalian….” (hadist solih dari seluruh jalan jalannya, sisholihkan oleh syeikh Al Albany dalam Zhilalul Jannah)

Lihatlah bagaimana  Rasulullah  Shollallahu ‘ alahi wa alihi wa sallam dalam kondisi perselisihan mengembalikan perselisihan tersebut kepada sunnahnya dan jalan para Khulafa’ Ar-Rasyidin yang senantiasa berada di atas sunnah dan petunjuk.  Maka digandengakannya sunnah beliau dengan jalannya para Khulafa’ Ar-Rasyidin ini menunjukan benarnya mereka dalam memahami sunnah Nabi Sollallahu ‘alahi wa alihi wa sallam dan kita mengikuti jalan mereka.

  1. Ijma’

Berkata Ibnul Qoyyim:” Sesungguhnya senantiasa para ulama di setiap zaman sepakat dalam berhujjah, mereka mengambil perkataan dan perbuatan para shahabat dan tidak satupun mengingkari hal ini. Karangan karangan dan muhadharah muhadharah mereka menjadi bukti dari hal itu. Dan berkata sebagian ulama Al- Malikiyah:  Para ulama di setiap zaman sepakat mengambil apa apa yang dating dari shahabat di dalam berhujjah, hal ini terkenal dalam riwayat riwayat para kulama,  kitab kitab dan muhadharah serta pengambilan dalil dalil mereka yang selalu berpatokan dari perkataan dan perbuatan para shahabat” Baca Bashiur Dzawi Asy- Syaraf Binarwiyat Manhaj As-Salaf hal 77-78.

Berkata Imam Ahmad Rahimahullah: “pokok sunnah di sisi kami adalah berpegang teguh di atas apa yang para shahabat di atasnya dan mengikuti mereka”. Lihat Syarah ushul I’tiqod Ahlussunnah Wal Jama’ah 1/176. Dan ini juga diucapkan oleh “Ali Ibnul Madiny sebagaimana dalam Dzamumut Ta’wil

Subhat dan Jawabannya

Sebagian orang mengatakan bahwa mengikuti jalan para ulama salaf adalah taqlid. Dan taqlid itu terlarang dalam agama. Maka untuk menjawab syubhat ini kami nukilkan keterangan syeikh Sholih Al-Fauzan menjawab syubhat ini dalam kaset yang berjudul “ Al Qowa’id fii  Al-Minhaj” beiau berkata:”Taqlid bukanlah tercela secara mutlak, taqlid dalam kebenaran dan mengikuti pengikut kebenaran ini adalah perkara yang diperintahkan Allah Ta’ala berfirman tentang nabi-Nya Yusuf ‘alahissalan: “ Dan aku mengikut agama bapak bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub” (QS, Yusuf:38). Yusuf ‘Alahissalam  mengabarkan bahwa ia mengikuti orang yang sebelumnya tatkala mereka berada diatas kebenaran. Dan Allah ‘Azza wa Jalla hanyalah mencela mengikuti ayah ayah dan nenek moryang karena mereka berada di atas selain ilmu.

“Dan apabila dikatakan kepada mereka:”Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah”, mereka menjawab: (Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami”. ‘(apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun, dan tidak mendapatkan petunjuk?”, (QS Al-Baqooh:170)

Mereka dicela karena mereka tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak mendapatkan petunjuk maka pemahaman ayat ini menunjukan bahwa orang yang mendahului kita, kalau mereka mengetahui dan memahami Al Qur’an dan As –Sunnah, mereka diikuti dalam hal itu.

Dan Allah Ta’ala berfirmanh: “Apabila dikatakan kepada mereka :”marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab:”Cukuplah untuk kami apa yuang kami dapati bapak bapak kami mengerjakannya.” Dan  apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa apa dan tidak (pula) mendapatkan petunjuk?” (QS Al-Maaidah:104)

Maka ini menunjukan bahwa orang yang mengetahui itu diikuti, yang tercela hanyalah siapa yang mengikuti orang yang tidak mengetahui. Maka Taqlid bukanlah tercela secara mutlak dan bukan pula boleh secara mutlak tapi ada rincian yaitu siapa yang diatas kebenaran maka ia diikuti dan ditaqliq dengan dalil apa yang datang dari Al Kitab dan As-Sunnah dari perintah mengikuti para ‘ulama shalaf dan mencontoh mereka (dan) siapa yang menyelisihi kebenaran tidak boleh diikuti dan di taqlid. Ini pemutus perselisihan dalam masalah ini.

Maka kami berkata: tiudak mungkin kita memahami  Al-Qur’an dan As-Sunnah kecuali dengan mengikuti manhaj salaf. Dan tidaklah mungkin seseorang datang di akhir dunia di akhir zaman lalu membuang manhaj Salaf dan menyangkna ia mengambil Al Kitab dan As Sunnah secara langsung. Ini adalah kesesatan dan memecah belah umat dan memutuskan hungan (generasi) belakangan dari (generasi) salafnya….”

                      Maroji’:

  1. Al Waajiiz fii aqiidatis Salafis Shaalih (Ahlis sunnah wal jama’ah)
  2. Bashoir dzawi Asy-Syaraf Bimarwiyat Manhaj as-salaf
  3. Syarah ushul I’tiqod Ahlussunnah Wal Jama’ah
  4. I”la Al-Muwaqqi’in Jilid 4
  5. Limadza Ikhtaru Al-Manhaj As salafy

 

 

SENDI SENDI BERTENTANGGA

Oleh: Ust Yusro Abu Shifa

Bertetangga adalah bagian dari kehidupan manusia yang tidak bisa ditolak. Sebab manusia memang tidak semata mata mahluk individu, tetapi juga mahluk sosial. Satu sama lain harus bermitra mencapai kebaikan. Islam memerintahkan segenap manusia untuk senantiasa berjamaah dan berlomba dalam berbuat kebaikan. Sebaliknya Islam melarang manusia bersekutu dalam melakukan dosa dan permusuhan.  Firman Allah Ta’ala: “Bertolong tolonglah kamu dalam berbuat kebaikan dan taqwa dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kepada Allah, karena sesunggunya Allah sangat berat siksanya” (QS Al-Maidah:2).

BATASAN TETANGGA

Ibnu Hajar mengatakan dalam kitab “ Al- Fath”, tetangga mencakup tetangga yang muslim dan kafir, ahli ibadah dan orang fasik, teman dan lawan, orang asing dan penduduk asli, yang member manfaat dan yang member mudharat, kerabat dekan dan bukan kerabat, rumah yang paling dekat dan yang paling jauh. Dan bagi mereka ada tingkatan tingkatannya sebagian mereka lainnya, yang paling tinggi tingkatannya adalah yang berkumpul padanya semua sifat sifat yang pertama kemudian yang paling banyak sifat sifatnya yang disebutkan tadi, demikian seterusnya sampai menjadi satu sifat saja, dan kebalikkannya adalah yang terkumpul padanya sifat sifat lainnya demikian seterusnya, maka setiap mereka diberikan haknya sesuai keadaannya, dan tekadang dua sifat atau lebih saling bertentangan maka hendaknya dipilih yang benar atau disamakan.

Ali bin Abi Thalib ketika berbicara tentang tetangga masjid beliau menyatakan, batasan tetangga masjid adalah: siapa saja yang mendengarkan panggilan, mak dia adalah tetangga masjid. Sekelompok manusia berpendapat:”Barang siapa tinggal bersama seseorang di suatu tempat atau kota maka dia adalah tetangga. Sewdangkan menurut Imam Syafi’i, yang dimaksud dengan tetangga adalah 40 rumah di samping kiri, kanan, depan atau belakang. Mau tidak mau setiap hari kita bertemu dengan mereka, baik hanya sekedar melempar senyuman, lambaian tangan, salam atau ngobrol diantara pagar rumah dan sebagainya.

MENGHORMATI TETANGGA

Penghormatan kepada tetangga adalah bagian dari aktualisasi keimanan kita kepada Allah Ta’ala dan hari  akhir, sebagaimana sabda Rasulullah ‘alaihi wasalam:”Barang siapa beiman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (HR Muslim) Anjuran untuk menghormati tetangga tentu maknanya amat luas. Menghormati berarti juga tidak menyakit hatinya, selalu berwajah manis pada tetangga,. Tidak menceritakan aib mereka, tidak menghina dan melecehkannya, dan tentu juga tidak menelatarkannya jika dia tengah membutuhkan pertolongan. Sikab buruk dalam bertetangga sermasuk dalam sebagian kecil tanda tanda kiamat sugro, yang dimaksud tanda tanda kiamat sugro (kecil) ialah tanda tandanya yang kecil, bukan kiamatnya. Tanda tanda ini terjadi mendahului hari kiamat dalam masa yang cukup panjang dan merupakan berbagai kejadian yang bisa terjadi. Seperti terangkatnya ilmu, munculnya kebodohan, merajalelanya minuman keras, perzinaan, riba dan sejenisnya.

Dari Abdullah Bin Amr radiallahu anhu. Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wasallam bersabda “ Tidak akan datang kiamat sehingga banyak perbuatan dan perkataan keji,  pemutusan hubungan selaturahmi, dan sikap yang buruk dalam bertetangga” (HR Imam Ahmad dan Hakim) Adapun sikap buruk dalam bertetangga, maka hal ini juga telah terjadi. Berapa banyak tetangga yang tidak kenal tetangga sebelah rumahnya, tidak permnah mengamati keadaannya agar ia dapat memberinya bantuan dan pertolongan jika tetangga itu membutuhkan pertolongannya. Bahkan tiodak jarang seorang tetangga mencegah tangannya berbuat buruk terhadap tetangganya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang seorang mengganggu dan menyakiti tetangganya dengan sabdanya:”Barang siapa yang beriman kepada Alah dan hari akhir maka tidak boleh mengganggu tetanggannya” (HR Muslim). Dan di dalam hadist yang lain Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:” Demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman” sahabat berkata: Siapa wahai Rasullullah? Beliau bersabda:” yang tetangganya tidak aman dari kejelekannya” (HR Bukhari).

Dan sebalinya beliau menyuruh berbuat baik kepada tetangga dengan sabedanya: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berbuat baik kepada tetangganya”. (HR Muslim) dan beliau bersabda lagi:” Malaikat Jibril senantiasa berpesan kepadaku agar berbuat baik kepada tetangga sehingga aku mengira bahwa seorang tetangga akan menjadi ahli waris bagi tetangganya” (HR Muslim)

BEBERAPA HAK TETANGGA

  1. Jangan kau sakiti dirinya. Rasulullah SAW bersabda:”Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan menyakiti hati tetangganya.” (Mutaffaq dan HR Ahmad dan Muslim).
  2. Berbuatlah baik kepada mereka, Rasulullah bersabda:”….. dan berbuat baiklah kepada tetanggamu maka kamu akan menjadi muslim” (Ibnu Majah)
  3. Bersikaplah dermawan dengan memberikan kebaikan kepadanya serta memberikan mereka hadiah. Rasulullah memberikan rambu rambu dalam memberikan hadiah agar didahulukan orang orang yang paling dekat pintunya dari rumah. Hal ini pernah ditanyakan pada Rasulullah dan beliau menjawab, “Berilah hadiah kepada yang paling dekat pintunya.” (Mutaffaq Alaih)
  4. Menghormati dan menghargai mereka. Rasulullah bersabda “Salah seorang dari kalian jangan sekali kali melarang tetangganya meletakan kayu di dinding rumahnya” (Mutaffaq Alaih). Rasulullah juga bersabda “Barang siapa mempunyai kebun bersama tetangganya, kalau mitra maka ia tidak boleh menjualnya hingga ia bermusyawarah dengannya” (Mutaffaq Alaih)
  5. Sabar terhadap Tetangga, Menghadapi tetangga yang buruk sudah menjadi keharusan bagi kita untuk berlaku sabar dalam menghadapinya. Hal ini akan menyebabkan diri kita dicintai Allah Ta’ala. Dari Abu Dzar berklata Rasulullah; “ Tiga golongan yang Allah mencintai mereka, seorang yang memiliki tetangga, dia disakiti oleh tetangganya, kemudian bersabar atas gangguan tersebut sampai keduanya dipisahkan oleh kematian atau sekedup”( HR Imam Ahmad)

Dalam sebuah hadist Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “ hak tetangga ialah, bila dia sakit, kamu kunjungi, bila  dia wafat kamu mengantarkan jenasahnya. Bila dia membutuhkan uang, maka kamu pinjami, dan bila tetangga kesukaran, maka jangan dibeberkan aib aibnya. Kamu  tutup tutup dan rahasiakan. Bila dia memperoleh kebaikan, maka kita turut bersuka cita dan mengucapkan turut bersuka cita dan mengucapkan selamat kepadanya, Dan bila dia menghadapi musibah, kamu datang untuk menyampaikan rasa duka. Janan sengaja meninggikan bangunan rumahmu melebihi bangunan rumahnya, atau menutup jalan uradarnya (kelancaran angin baginya). Dan jangan kamu mengganggu dengan bau masakan kecuali kamu menciduknya dan memberikan kepadanya”

Permasalahan “tetangga” bukanlah remeh bahkan sangat diperhitungkan di dalam agama Islam. Terlebih lagi Islam mewasiatkan untuk selalu menjaga dan memuliakan tetangga. Simaklah firman Allah:” Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukanNya dengan sesuatupun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak anak yatim, orang miskin, tetangga dekat maupun tetangga jauh, teman sejawat, Ibnu sabil  (orang yang mengadakan perjalanan) dan hamba sahaya.  Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang orang yang sombong dan membangga banggakan diri” (QS. An-Nisaa:36). Syair Islami yang menunjukkan bagaimana indahnya berhubungan bertetangga itu:

“Kutundukan pandanganku ketika muncul tetangga wanita, hingga tetangga wanita terlindungi oleh rumahnya.”

Wallahu’alam……

Rujukan:

  • Ensiklopedia Muslim, Abu Bakr Jabir Al –Jazairi
  • Etika bertetangga, syeikh Ali Hasan ali Abdul hamid
  • Asyraus Sa’ah, Yusuf bin Abdulah bin Yusuf Al Wabil MA

 

 

WANITA KARIR

Oleh: Ust Anshary

 

 

 

Sungguh nikmat besar yang Allah berikan kepada hamba- hambanya adalah nikmat Islam dan hidayah untuk mengikuti syariat Rasulullah Shallallagy a’laihi wa sallam, karena perkara yang dikandung oleh syariat ini berupa  kebahagiaan di dunia dan akhirat. Tidak diragukan lagi bahwa Islam datang untuk menjaga kemuliaan dan memelihara kemuliaan wanita dan menempatkannya pada tempat yang sesuai Islam menjaukan wanita dari perkara yang dapat memperburuk dan mencemari kemuliaanya serta memerintahkan pula kepada wanita untuk menjaga kesopanan dalam berpakaiannya dan mewajibkan berhijab, karena dengan berhijab dirinya lebih terjaga dan lebih suci dari semua pihak.

Kalau kita perhatiakan realita hari ini, sungguh sesuatu yang menyedihkan dan memilukan apa yang diperbuat oleh sebagian wanita. Mereka mempertontonkan perhiasannya, menampakan keindahan tubuh mereka di hadapan laki laki yang bukan mahromnya, dan mereka keluar rumah, kepasar pasar dalam keadaan bersolek dan memakai wangi wangian bercampur baur dengan laki laki baik di pabrik maupun di kantor. Ini semua merupakan fitnah yang besar yang dapat menghancurkan sendi dan bangunan Islam. Mudah mudahan dengan tulisan ini mampu menggugah kesadaran kita tentang hukum wanita karir ditinjau dari segi syariat Islam, dampak positif dan negatifnya, dan mempu memberikan manfaat bagi seluruh umat Islam.

KEDUDUKAN WANITA DALAM ISLAM

Islam menghormati wanita dengan penghormatan yang sangat luhur serta mengangkat martabatnya dari sumber keburukan dan kehinaan dari penguburan hidup hidup dan perlakuan buruk ke kedudukan yang terhormat dan mulia, sebagai wanita menjadi ibu dan sebagai istri yang harus diperlakukan dengan lemah lembut dan kehalusan. Seorang mukminah yang teguh dalam ketaatannya, maka Allah telah menyediakan baginya seperti apa yang telah disediakan bagi kaum mukminin, tidak ada perbedaan dalam dalam hal ini, sebagai mana firman Allah Ta’ala: “Barang siapa yang mengerjakan amal shaleh, baik laki laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sungguh akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik “(QS An-Nahl:97)

Allah Ta’ala menciptakan kaum wanita dengan susunan yang sangat berbeda dengan susunan tubuh laki laki. Allah mempersiapkan wanita untuk bekerja di dalam rumah dan sifat pekerjaan yang sesuai dengan kewanitaannya.  Dalam sebuah hadits, Rasulullah Shallalohu a’laihi wassallam bersabda:” Dunia adalah perhiasan dan sebaik baiknya perhiasan adalah wanita shalihah” (HR Muslim). Islam telah menentukan kewajiban kewajiban tersendiri bagi masing masing laki laki dan wanita, dan masing masing dituntut untuk melaksanakan peranannya, sehingga dengan begitu bangunan masyarakat akan sepurna baik di dalam maupun di luar rumah, Laki laki dituntut  untuk mencari nafkah, sementara wanita dituntut  untuk mendidik anak anaknya, member  perhatian, kasih sayang, menyusui dan mengasuhnya, sedangkan meninggalkan tugas tugas rumah bagi wanita berarti menyia nyiakan  rumah dan penghuninya. Hal ini akan menyebabkan  terpecahnya lahir dan bathin keluarga. Allah Ta’ala berfirmah: “ Hai orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu’ (QS At Tahrim:6. ) Dengan demikian peranan wanita dalam memelihara dirinya dan keluarganya merupakan perkara yang perlu diperhatikan dan dicermati.

SEJARAH KELUARNYA WANITA

Kaum Yahudi dan Nasrani, rahib dan para pendetanya telah berusaha menghancurkan tatanan keluarga muslim. Usaha besar besaran yang mereka lakukan khususnya dimaksudkan untuk merusak para wanita, demikian ini terjadi semenjak masuknya penjajahan ke negara negara Islam, kemudian usaha mereka dilanjutkan oleh Djoimer dengan mengadakan konggres kemanusiaan pada tahun1908. Dimana saat itu ia mengajukan pendapat dan kerabian, teman teman dan murid muridnya, agar mereka berusaha mengajak para wanita muslimah keluar dari dalam rumahnya, dan merusak hubungan dengan suaminya, Orang tua dan anak anaknya dan dijelaskan olehnya bahwa jalan terbaik untuk menjatuhkan kaum muslimin dari Islamnya adalah dengan merusak para wanitanya.

Untuk itulah musuh musuh Islam tidak segan segan mempergunakan berbagai macam mendia dan sarana sarana informasi untuk menggambarkan wanita dalam wujud godaan yang paling indah sekali waktu wanita ditampilkan dalam pose telanjang. Pada waktu lain ditampilkan sebagai penari dan pada kesempatan lain ditampilkan sebagai penyanyi. Untuk itulah mereka mengerahkan seluruh kemampuan yang ada.

Hal itu semua tidak aneh karena yang menjadi tujuan mereka adalah merusaknya kehidupan addien kaum muslimah sehingga tidak mengherankan kalau diantara mereka mengatakan hal seperti ini diantanya yaitu:

Goldstone (salah seorang Kristen)  mengatakan: “situasi timur tidak pernah akan tenang kalau hijab tak segera direnggut dari wanita kauam muslimin.

Jean Paul  Rau (seorang Kristen) mengatakan:” Sesungguhnya pengaruh barat yang terlihat di segala bidang dan dapat menguasai masyarakat Islam memang lebih baik tidak perlu ditonjolkan, biarlah yang menonjolkan gerakan kebebasan Wanita”

Anna Milgan (misionaris Kristen) mengatakan:’Tak ada jalan yang lebih pendek untuk merobohkan islam daripada keluarnya wanita muslimah tanpa menutup kepala dan berpakaian yang tidak senonoh”

SEBAB SEBAB WANITA KELUAR RUMAH.

  1. Makar Yahudi dan nasrani dengan dalih kebebasan .

pasca abad kebangkiitan industri di Eropa tidak henti hentinya menggembar gemborkan kata kebebasan. Para pemikir dan cedikiawan eropa adalah keluar dari ungkapan kekuasaan gereja yang membatasi ruang lingkup mereka termasuk dalam masalah pribadi mereka, arti kebebasan lain yang mereka  maksudkan ialah melepaskan diri dari belenggu rumah, menghalang halangi dengan  penemuan ilmiah dan menuduh orang yang tidak sependapat dengan mereka adalah kafir.

Ungkapan kebebasan kemudian bekembang dan meningkat sehingga artinya menjadi keluarnya wanita dari rumahnya untuk beraktifitas persis seperti kaum pria tanpa mengindahkan struktur fisiknya dan kekuatan tubuhnya termasuk perasaan dan hati nurani.

Kemudian makna kebebasan orang orang eropa mempunyai asumsi yang tidak benar, kemudian kebebasan tersebut berkembang semakin jauh sehingga sampai melakukan hubungan seksual dijalan jalan raya didengar dan ditonton orang banyak padahal makna kebebasan telah dibatasi oleh satu bingkai yang tidak boleh melanggar dengan syariat, dan akal manusia, karena makna kebebasan tersebut melanggar terhadap hak asasi manusia.

  1. Dampak Ekonomi.

Abul A’la Al Maududi berkata: Diantara implikasi yang ditimbulkan oleh system kepitalis adalah wanita menjadi penghambat bagi suaminya, anak anak menjadi beban ayahnya, orang orang menjadi individualis, hanya memperhatikan dirinya sendiri dan tidak mempeduliukan orang lain, kondisi perekonomian menuntut setiap orang diantara masyarakat untuk bekerja mencari nafkah sehingga seluruh lapisan msyarakat baik kaum wanita, gadis gadis, para janda dan wanita yatim mereka harus keluar rumah untuk mencari pekerjaan.

  1. Dangkalnya mereka terhadap nilai nilai Islam

Penyebab utama yang mendasari seorang wanita keluar rumah disebabkan karena mereka kurang mengerti hakekat dan peranannya di dalam menciptakan generasi generasi islam masa mendatang, sehingga hari hari mereka dihabiskan di luar rumah hanya ingin mencapai ekonomi yang makmur saja, ini semua dikarenakan dangkalnya pemahaman kaum wanita mengenai nilai nilai addien itu sendiri.

DALIL DALIL DI SYARIATKAN AGAR WANITA TINGGAL DI RUMAH

Allah ta’ala berfirman: “ tetaplah para wanita tinggal di rumah mereka dan janganlah mereka bertabarruj seperti orang jahiliyah” (QS Al Ahzab:33). Ibunu Katsir berkata:” Tetaplah mereka para wanita tinggal di dalam rumah, maka jangalah mereka keluar rumah tanpa ada keperluan Syar’i”. Allah Ta’ala berfirman:’’Wahai orang orang yang beriman, peliharalah dirumu dan keluarga mu dan api neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu” (QS At-Tahrim:6)

DAMPAK NEGATIF WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH

  1. Menelantarkan putra putrinya, mereka kurang mendapatkan kasih sayang perawatan dan pendidikan langsung dari sang Ibu. Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda :” Sesungguhnya Allah akan meminta pertanggung jawaban setiap pemimpin atas apa yang dipimpin, apakah ia menjaga kepemimpinan itu atau melalaikannya sehingga orang laki laki ditanya tentang angora keluarganya” (As- silsilah Ahadist as Shohihah: 1636).
  2. Para wanita bekerja di luar rumah pada umumnya mereka bercampur baur denan kaum laki laki, dan ini merupakan bencana yang besar. Dalam sebuah hadits Rasulullah SAW berkata:” Tidaklah aku tinggalkan sepeninggalan ku fitnah yang lebih berbahaya bagi laki laki dan fitnahnya wanita” (HR Bukhari dan Muslim).
  3. Para wanita yang bekerja di luar rumah, mereka pada umumnya melepaskan hijabnya, sering bepergian dan memakai parfum atau make up yang dapat mengundang syahwat kaum laki laki.
  4. Wanita yang bekerja di luar rumah dapat mengilangkan sifat dan naluri keperempuanannya, kehilangan kasih sayang kepada para putranya, disamping itu juga akan meruntukan sistem keluarga, tidak ada keharmonisan dan tolong menolong di dalamnya.
  5. Seorang wanita telah ditaqdirkan untuk mencintai perhiasan, memakai emas, pakaian pakaian yang bagus dan lain sebagainya, maka jika ia keluar rumah untuk bekerja, ia akan besikap boros, karena banyaknya perhiasan dan pakaian serta asesoris lain yang akan dibelinya.
  6. Membuka pintu pintu perzinahan, karena wanita keluar rumah pada hakekatnya mengundang fitnah bagi dirinya dan orang lain.

SYARAT SYARAT DIPERBOLEKAN WANITA BEKERJA DI LUAR RUMAH.

Keterpaksaan (darurat) dilihat dari segi keurgensiannya, oleh karena itu seorang wanita terpaksa harus bekerja di luar rumahnya, maka dia harus memenuhi syarat syarat sebagai berikut:

  1. Mendapatkan ijin dari walinya yaitu ayah atau suaminya untuk suatu pekerjaan yang halal seperti menjadi tenaga pendidik para siswi atau menjadi perawat khusus wanita.
  2. Tidak bercampur baur dengan kaum lelaki atau melakukan khalwat dengan laki laki yang bukan mahramnya. Rasulullah bersabda:” Janganlah sekali kali seseorang laki laki bekhalwat (berduaan) dengan wanita karena yang ketiganya adalah syaithan” (HR At Tirmidzi).
  3. Tidak belaku tabarruj dan menampakan perhiasan yang dapat mengundang fitnah.
  4. Tidak memakai parfun yang menyengat hidung atau parfum yang membangkitkan birahi sesorang dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:” Setiap mata adalah pezina dan sesungguhnya apabila wanita itu mengenakan wewangian kemudian dia berlalu melewati majelis maka dia adalah pezina’ (HR Abu Daud dan At Tirmidzi)
  5. Memakai hijab menurut ketentuan syar’i.
  6. Allah ta’ala berfirman:” Wahai Nabi, katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu, dan para wanita mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah maha pengampun lagi maha penyayang” (QS Al-Ahzab:59)

Wallahu A’lam Bisshawab

Referensi:

  1. Al Quran
  2. Ensiklopedi wanita muslimah
  3. Wajah Dunia Islam
  4. Tafsir Al Qur’anu Adzim, Ibnu Katsier
  5. Wanita Karir dalam tinjauan Al Qur’an dan As Sunnah
  6. Al Hijab Abdul A’la Almaududi